Gus Faqih Sebut Pertemuan di Banten Tidak Penting, Desak Pembuktian Nasab Ba'alawi Melalui Tes DNA
Warta Batavia - JAKARTA - KRT Faqih Wirahadiningrat (Gus Faqih) memberikan keterangan pers terkait penyelesaian sengketa nasab Ba'alawi. Ia menilai pertemuan atau halaqoh yang menyatakan diri sebagai Kasepuhan Kesultanan Banten merupakan forum yang tidak penting.
Gus Faqih menjelaskan bahwa persoalan nasab seharusnya diselesaikan dengan pembuktian, bukan melalui perdebatan. Ia merujuk pada hasil pertemuan sebelumnya di Benda Kerep yang memutuskan nasab Sunan Gunung Jati tersambung kepada Sayyid Musa Al-Kadzim Al-Husaini, serta telah diisbat oleh Naqabah Internasional.
Terkait klaim nasab Ba'alawi, Gus Faqih menyampaikan tiga tuntutan pembuktian. Pertama, ia meminta pihak Ba'alawi menghadirkan manuskrip atau kitab nasab primer untuk membuktikan bahwa tidak ada kekosongan nasab selama 550 tahun. Kedua, menghadirkan isbat dan syahadah dari lembaga naqabah internasional yang diakui, khususnya dari Yaman atau Irak, sesuai dengan klaim asal-usul leluhur mereka. "Sampai detik ini tidak ada isbat apapun dari negeri-negeri tersebut," ujarnya.
Ketiga, Gus Faqih menyatakan bahwa secara ilmu genetika, nasab Ba'alawi batal. Ia mengungkapkan bahwa hasil tes DNA terhadap sampel keluarga Ba'alawi menunjukkan haplogroup G. "Padahal keluarga Sayyid Syarif Sadah Internasional di banyak negeri yang tercatat kuat secara kitab, manuskrip, dan silsilah itu semuanya adalah J1 dan ada kode Abrahamik serta kode Imam Ali FGC 10500," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa temuannya menunjukkan haplogroup G muncul pertama kali di Kaukasus dan terdapat kode PF3296 yang dimiliki oleh Yahudi Khazar. "Mereka secara garis lurus laki-laki kromosom Y-nya bukan saja batal sebagai keturunan Nabi atau Bani Hasyim, mereka juga batal sebagai keturunan dari Quraisy dan sama sekali bukan orang Arab," tegasnya.
Menurut Gus Faqih, penyelesaian sengketa ini harus dimulai dari pengujian kadar genetika terlebih dahulu sebelum memperdebatkan dokumen silsilah. "Kalau ini ternyata kuningan, buat apa dicari dokumennya? Tes dulu kadar DNA-nya, tes dulu genetikanya, baru silsilah nasabnya bisa dipertimbangkan keabsahannya," katanya.
Gus Faqih juga menanggapi hasil pertemuan bertajuk "Sulhu Albantaniyah" yang menghasilkan enam butir kesepakatan bersama antara keluarga Walisongo dan Ba'alawi. Ia menyebut sejumlah poin dalam kesepakatan tersebut sebagai framing yang tidak tepat. Salah satunya adalah kesepakatan untuk menghentikan saling menghina. Menurutnya, selama ini keluarga Walisongo tidak pernah melakukan penghinaan terhadap nasab Ba'alawi.
Terkait pembentukan tim pencari fakta skala Asia Tenggara untuk penelusuran nasab Walisongo dan Maulana Syarif Jamaluddin Akbar, Gus Faqih menegaskan bahwa hal tersebut merupakan urusan internal keluarga Walisongo dan tidak memerlukan persetujuan pihak Ba'alawi.
Gus Faqih juga mengungkapkan bahwa pakar genetik yang dijadwalkan hadir dalam forum di Banten tidak jadi dijemput oleh panitia dengan alasan kehabisan biaya. Menurutnya, perlakuan tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap keilmuan. Sementara itu, sebagian besar keluarga besar Walisongo dan tokoh seperti Kiai Imaduddin Utsman memilih menghadiri pertemuan di Cirebon.
Simak videonya di YouTube:

